Selasa, 07 Oktober 2025

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Berikut uraian lengkap dan rinci tentang model pembelajaran Think Pair Share (TPS), mulai dari pengertian, landasan teori, langkah-langkah, kelebihan, kelemahan, hingga contoh penerapan di kelas.

1. Pengertian Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Think Pair Share (TPS) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yang dikembangkan oleh Frank Lyman dan koleganya pada tahun 1981 di Universitas Maryland, Amerika Serikat.
Model ini dirancang untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar dengan memberikan kesempatan kepada setiap siswa untuk berpikir secara individu, berdiskusi berpasangan, dan kemudian berbagi hasil pemikirannya dengan kelompok atau kelas.

Secara harfiah,

  • Think berarti berpikir sendiri terlebih dahulu,
  • Pair berarti berpasangan atau berdiskusi dengan teman, dan
  • Share berarti berbagi hasil diskusi dengan kelompok atau kelas.

Model ini sangat cocok digunakan dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning), karena mendorong keterlibatan aktif, kemampuan berpikir kritis, dan komunikasi antar siswa.


2. Landasan Teori

Model TPS berlandaskan pada teori:

  • Konstruktivisme (Constructivism) – pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa melalui interaksi dan refleksi pengalaman belajar.
  • Teori Belajar Sosial Vygotsky – menekankan pentingnya interaksi sosial dalam perkembangan kognitif.
  • Teori Belajar Kooperatif Johnson & Johnson – keberhasilan individu terkait erat dengan keberhasilan kelompok melalui kerja sama dan saling ketergantungan positif.

Dengan dasar teori tersebut, TPS memfasilitasi pembelajaran yang bermakna, meningkatkan rasa tanggung jawab individu dan kelompok, serta melatih komunikasi interpersonal.


3. Tujuan Model Think Pair Share

Model ini bertujuan untuk:

  1. Meningkatkan keterlibatan aktif semua siswa dalam pembelajaran.
  2. Melatih kemampuan berpikir kritis dan analitis.
  3. Mengembangkan kemampuan komunikasi dan kerja sama.
  4. Mendorong keberanian siswa mengemukakan pendapat.
  5. Meningkatkan pemahaman konsep melalui diskusi dua arah.

4. Langkah-langkah (Sintaks) Model Think Pair Share

Menurut Lyman (1981), pelaksanaan TPS terdiri dari tiga tahap utama, yang dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tahap 1: Think (Berpikir)

  • Guru mengajukan suatu pertanyaan atau permasalahan terkait materi pembelajaran.
  • Siswa diberi waktu beberapa menit untuk berpikir secara individu tentang jawaban atau solusi dari pertanyaan tersebut.
  • Pada tahap ini, siswa menggunakan pengetahuan awalnya dan merefleksikan pemahamannya sendiri.

Contoh:
Guru bertanya, “Mengapa luas segitiga bisa dihitung dengan rumus ½ × alas × tinggi?”
Siswa berpikir sendiri untuk menemukan alasan logis dari konsep tersebut.


Tahap 2: Pair (Berpasangan)

  • Siswa diminta untuk berpasangan dengan teman di sebelahnya untuk mendiskusikan hasil pemikiran mereka.
  • Diskusi berlangsung sekitar 2–5 menit.
  • Mereka bertukar pendapat, membandingkan jawaban, memperbaiki pemahaman, dan membangun kesimpulan bersama.

Tujuan tahap ini:
Mengembangkan kemampuan komunikasi, mendengarkan, dan menghargai pendapat orang lain.


Tahap 3: Share (Berbagi)

  • Setiap pasangan diminta untuk berbagi hasil diskusinya dengan seluruh kelas.
  • Guru memandu sesi berbagi ini dengan mengundang beberapa pasangan untuk menyampaikan hasilnya.
  • Guru kemudian menegaskan, menyimpulkan, dan memperluas pemahaman berdasarkan masukan siswa.

Tujuan tahap ini:
Memberi kesempatan pada semua siswa untuk terlibat, serta menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung jawab terhadap hasil belajar.


5. Peran Guru dan Siswa

Guru Siswa
Menyusun pertanyaan atau masalah yang menantang Berpikir secara individu
Menjelaskan aturan dan waktu untuk tiap tahap Berdiskusi dengan pasangan
Memfasilitasi diskusi dan memberikan umpan balik Berbagi hasil diskusi kepada kelas
Menyimpulkan hasil pembelajaran Mencatat hasil dan refleksi belajar

6. Kelebihan Model Think Pair Share

  1. Meningkatkan partisipasi siswa. Semua siswa mendapat kesempatan berpikir dan berbicara.
  2. Meningkatkan kemampuan komunikasi. Siswa belajar mengemukakan dan mempertahankan pendapatnya.
  3. Meningkatkan pemahaman konsep. Karena siswa menjelaskan materi kepada teman, pemahaman menjadi lebih dalam.
  4. Membangun kepercayaan diri. Diskusi berpasangan mengurangi rasa takut berbicara di depan umum.
  5. Mengembangkan sikap sosial positif. Siswa belajar bekerja sama, menghargai pendapat, dan mendengarkan orang lain.
  6. Fleksibel dan mudah diterapkan. Dapat digunakan di hampir semua mata pelajaran dan tingkat pendidikan.

7. Kelemahan atau Tantangan Model Think Pair Share

  1. Membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan metode ceramah biasa.
  2. Ketergantungan pada pasangan. Jika satu siswa pasif, diskusi bisa tidak efektif.
  3. Kesulitan pengawasan. Guru perlu memastikan setiap pasangan benar-benar berdiskusi.
  4. Perlu persiapan pertanyaan yang tepat. Jika pertanyaan terlalu mudah atau terlalu sulit, proses TPS tidak optimal.

8. Contoh Penerapan dalam Pembelajaran

Contoh di Mata Pelajaran Matematika

Materi: Persamaan Linear Dua Variabel
Langkah:

  1. Think: Guru memberi soal: “Bagaimana cara menentukan titik potong dua garis pada sistem persamaan linear dua variabel?”
  2. Pair: Siswa berpasangan dan mendiskusikan langkah-langkah menggunakan metode substitusi atau eliminasi.
  3. Share: Beberapa pasangan menjelaskan hasilnya di papan tulis, lalu guru dan kelas membahas bersama.

Contoh di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Materi: Menentukan gagasan utama paragraf

  1. Think: Siswa membaca teks dan berpikir tentang gagasan utamanya.
  2. Pair: Berdiskusi dengan teman mengenai gagasan utama yang mereka temukan.
  3. Share: Berbagi jawaban dan membandingkan hasil antar pasangan.

9. Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi dalam TPS dapat dilakukan dengan:

  • Observasi langsung terhadap aktivitas dan partisipasi siswa.
  • Penilaian proses, misalnya melalui lembar observasi kerja sama atau komunikasi.
  • Penilaian hasil, berupa tes individu, kuis, atau hasil diskusi kelompok.
  • Refleksi siswa, tentang apa yang mereka pelajari dan rasakan selama proses.

10. Kesimpulan

Model pembelajaran Think Pair Share (TPS) adalah strategi kooperatif sederhana namun efektif untuk meningkatkan keaktifan dan pemahaman siswa.
Dengan tiga tahap (berpikir, berpasangan, dan berbagi), TPS menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, serta rasa percaya diri dalam diri siswa.
Meski memerlukan waktu dan manajemen kelas yang baik, penerapan model ini terbukti mampu menciptakan pembelajaran yang lebih hidup, interaktif, dan bermakna.

"Burnout" di Kalangan Mahasiswa: Tantangan Baru Dunia Pendidikan Tinggi

Fahkrullah I Tama Umar, S.PdI., M.Pd

(Dosen & Praktisi Pendidikan)

Fenomena burnout atau kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat tekanan akademik menjadi isu serius di kalangan mahasiswa. Artikel ini membahas penyebab, dampak, dan strategi penanggulangan burnout di lingkungan pendidikan tinggi. Melalui tinjauan pustaka dan analisis konseptual, ditemukan bahwa faktor penyebab utama burnout meliputi beban tugas yang berlebihan, tekanan prestasi, kurangnya dukungan sosial, serta lemahnya manajemen waktu. Artikel ini menegaskan perlunya pendekatan holistik dari institusi pendidikan untuk membangun lingkungan belajar yang sehat dan berkelanjutan.

Perkembangan dunia pendidikan tinggi yang semakin kompetitif membawa tantangan baru bagi mahasiswa. Tuntutan akademik, ekspektasi sosial, serta tekanan untuk meraih prestasi sering kali menyebabkan mahasiswa mengalami stres berkepanjangan. Jika tidak dikelola dengan baik, stres ini dapat berkembang menjadi burnout — kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang serius (Maslach & Leiter, 2016).

Di era digital saat ini, mahasiswa dihadapkan pada beban akademik yang tidak hanya bersumber dari kampus, tetapi juga dari tekanan sosial media, perbandingan sosial, dan ketidakpastian masa depan. Fenomena ini menjadikan burnout sebagai salah satu masalah psikologis paling menonjol di dunia pendidikan tinggi (Schaufeli et al., 2020).

Menurut Maslach dan Jackson (1981), burnout merupakan sindrom psikologis yang terdiri dari tiga dimensi utama, yaitu:

  1. Kelelahan emosional (emotional exhaustion) — perasaan lelah dan kehilangan energi akibat tuntutan akademik yang terus menerus.
  2. Depersonalisasi (depersonalization) — munculnya sikap negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan belajar.
  3. Penurunan pencapaian pribadi (reduced personal accomplishment) — berkurangnya rasa percaya diri terhadap kemampuan akademik.

Dalam konteks mahasiswa, burnout akademik dapat diartikan sebagai kondisi kelelahan akibat beban belajar yang berlebihan, yang berdampak pada penurunan motivasi, performa akademik, serta kesejahteraan psikologis (Salmela-Aro & Read, 2017).


Faktor Penyebab Burnout di Kalangan Mahasiswa

Beberapa faktor utama yang memicu burnout pada mahasiswa antara lain:

  1. Beban Akademik yang Tinggi
    Mahasiswa sering menghadapi jadwal kuliah padat, tugas berlapis, serta ekspektasi akademik yang tinggi. Kondisi ini menimbulkan tekanan berlebih yang menguras energi mental.

  2. Manajemen Waktu yang Buruk
    Kurangnya kemampuan mengatur waktu dan prioritas menjadi penyebab umum munculnya stres. Mahasiswa sering kali menunda pekerjaan hingga mendekati tenggat waktu, yang memperparah kelelahan mental.

  3. Kurangnya Dukungan Sosial
    Dukungan dari teman sebaya, dosen, dan keluarga berperan penting dalam mencegah burnout. Mahasiswa yang merasa terisolasi cenderung lebih rentan terhadap kelelahan emosional.

  4. Tekanan Sosial dan Ekspektasi Masa Depan
    Kekhawatiran akan masa depan, tuntutan karier, serta tekanan sosial media memperburuk kondisi psikologis mahasiswa, menyebabkan munculnya perasaan tidak cukup baik (imposter syndrome).


Dampak Burnout terhadap Mahasiswa

Burnout memiliki dampak signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan mahasiswa, di antaranya:

  • Penurunan Prestasi Akademik: Konsentrasi dan motivasi belajar menurun drastis.
  • Gangguan Kesehatan Mental: Meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan kelelahan kronis.
  • Penurunan Partisipasi Sosial: Mahasiswa menjadi menarik diri dari kegiatan sosial dan organisasi.
  • Tingginya Drop-out Rate: Beberapa mahasiswa memilih berhenti kuliah karena tidak mampu mengatasi tekanan akademik.

Strategi Pencegahan dan Penanganan Burnout

Upaya untuk mencegah dan mengatasi burnout harus dilakukan secara menyeluruh oleh mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan. Strategi yang dapat diterapkan antara lain:

  1. Pelatihan Manajemen Stres dan Waktu
    Kampus dapat menyediakan workshop tentang manajemen waktu, teknik relaksasi, dan strategi coping terhadap stres akademik.

  2. Konseling dan Dukungan Psikologis
    Layanan bimbingan konseling kampus perlu dioptimalkan sebagai ruang aman bagi mahasiswa untuk mengekspresikan perasaan dan mendapatkan pendampingan profesional.

  3. Keseimbangan Akademik dan Kehidupan Pribadi (Work–Life Balance)
    Mahasiswa perlu menyeimbangkan antara kegiatan akademik, sosial, dan rekreasi agar tidak terjebak dalam rutinitas monoton.

  4. Peran Dosen dan Institusi Pendidikan
    Dosen berperan penting dalam menciptakan iklim akademik yang suportif, tidak hanya menilai hasil belajar tetapi juga memperhatikan proses dan kesejahteraan mental mahasiswa.


Kesimpulan

Burnout di kalangan mahasiswa merupakan tantangan nyata dalam dunia pendidikan tinggi modern. Tekanan akademik, sosial, dan emosional yang tinggi menuntut adanya perhatian serius dari seluruh pihak di lingkungan kampus. Pendekatan holistik berbasis kesejahteraan psikologis harus menjadi bagian integral dari kebijakan pendidikan tinggi agar mahasiswa dapat berkembang secara optimal, baik secara akademik maupun emosional.


Daftar Pustaka

  • Maslach, C., & Jackson, S. E. (1981). The Measurement of Experienced Burnout. Journal of Occupational Behavior, 2(2), 99–113.
  • Maslach, C., & Leiter, M. P. (2016). Burnout and Engagement in the Workplace: A Contextual Analysis. Annual Review of Organizational Psychology, 1(1), 397–422.
  • Salmela-Aro, K., & Read, S. (2017). Study Engagement and Burnout Profiles Among Finnish Higher Education Students. Burnout Research, 7, 21–28.
  • Schaufeli, W. B., Martínez, I. M., Pinto, A. M., Salanova, M., & Bakker, A. B. (2020). Burnout and Engagement in University Students: A Cross-National Study. Journal of Cross-Cultural Psychology, 51(4), 310–325.

Minggu, 05 Oktober 2025

GAP antara Dunia Kampus dan Stakeholder: Tantangan dan Upaya Menjembatani Kesenjangan

Fahkrullah I Tama Umar, S.PdI., M.Pd
(Dosen & Praktisi Pendidikan)
Pendahuluan

Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan (gap) yang cukup signifikan antara dunia kampus dan stakeholder — baik dunia industri, pemerintah, maupun masyarakat pengguna lulusan. Kesenjangan ini tidak hanya berkaitan dengan kompetensi lulusan, tetapi juga menyangkut relevansi kurikulum, orientasi riset, serta pola kerja sama yang belum sinergis.

Akar Permasalahan GAP

1. Ketidaksesuaian Kurikulum dengan Kebutuhan Dunia Kerja
Banyak kurikulum perguruan tinggi masih berorientasi akademik dan kurang adaptif terhadap perkembangan dunia industri yang cepat berubah. Akibatnya, lulusan sering kali menguasai teori, tetapi tidak siap menghadapi tantangan praktis di lapangan.

2. Minimnya Komunikasi dan Kolaborasi
Hubungan antara kampus dan stakeholder sering bersifat formalitas, misalnya hanya dalam bentuk kerja sama magang atau MoU tanpa implementasi nyata. Hal ini menyebabkan kampus sulit memahami kebutuhan pasar kerja secara real-time.

3. Orientasi Penelitian yang Kurang Terapan
Penelitian di kampus sering berfokus pada publikasi ilmiah dan akreditasi, bukan pada pemecahan masalah konkret yang dihadapi industri atau masyarakat. Akibatnya, inovasi kampus tidak selalu memberikan dampak langsung bagi stakeholder.

4. Kurangnya Soft Skills dan Etos Kerja Lulusan
Dunia industri menuntut kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kolaborasi, dan kreativitas. Namun, banyak mahasiswa belum dibekali secara optimal dengan keterampilan non-teknis tersebut selama perkuliahan.

Dampak dari Kesenjangan Ini

Tingginya Tingkat Pengangguran Terdidik karena lulusan tidak sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Kurangnya inovasi terapan yang mampu menjawab tantangan industri dan masyarakat.
Menurunnya kepercayaan stakeholder terhadap kemampuan kampus menghasilkan sumber daya manusia yang relevan.
Lambatnya adaptasi dunia pendidikan tinggi terhadap transformasi digital dan revolusi industri 4.0.

Upaya Menjembatani GAP :
1. Revitalisasi Kurikulum Berbasis Outcome dan Kompetensi
Kampus perlu menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang menekankan keterampilan praktis dan karakter kerja. Keterlibatan industri dalam penyusunan kurikulum menjadi kunci relevansi.
2. Kolaborasi Triple Helix: Kampus–Industri–Pemerintah
Model kolaborasi triple helix perlu diperkuat untuk memastikan bahwa hasil riset dan pendidikan di kampus dapat mendukung pembangunan ekonomi dan inovasi nasional.
3. Program Magang dan Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning)
Mahasiswa perlu dilibatkan dalam pengalaman kerja nyata melalui magang intensif, proyek riset bersama industri, dan pembelajaran kontekstual agar siap menghadapi dunia profesional.
4. Peningkatan Kompetensi Dosen dan Tenaga Pendidik
Dosen perlu diperbarui dengan pelatihan industri dan sertifikasi profesional agar materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.
5. Pemanfaatan Teknologi dan Data untuk Perencanaan Strategis
Kampus dapat menggunakan tracer study dan big data analytics untuk memetakan kebutuhan kompetensi pasar kerja dan menyesuaikan strategi pengajaran.

Penutup
Kesenjangan antara dunia kampus dan stakeholder merupakan tantangan nyata yang memerlukan kolaborasi lintas sektor. Kampus tidak bisa berdiri sendiri sebagai menara gading ilmu pengetahuan, tetapi harus menjadi jembatan pengetahuan yang menghubungkan teori dan praktik. Sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci untuk mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh, kreatif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Selasa, 30 September 2025

Kuliah Zaman Now: Seberapa Efektif AI di Dunia Perkuliahan?

Fahkrullah I Tama Umar, S.PdI., M.Pd
(Dosen & Praktisi Pendidikan)

Pernah kebayang nggak kalau tugas kuliah bisa dikoreksi otomatis, atau kamu punya “asisten pribadi” yang siap menjawab pertanyaan kapan pun? Itu semua sudah bukan mimpi lagi, karena sekarang ada Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan. Dunia perkuliahan pun mulai akrab dengan teknologi ini. Tapi sebenarnya, seberapa efektif sih penggunaan AI di bangku kuliah? Yuk kita bahas!

AI: Bukan Pengganti Dosen, tapi Teman Belajar
Banyak yang khawatir AI bakal “menggantikan dosen”. Padahal, AI lebih cocok disebut teman belajar. Misalnya, sistem AI bisa menyesuaikan materi kuliah sesuai dengan kemampuan tiap mahasiswa. Kalau kamu agak lemah di statistik, AI bisa kasih latihan tambahan yang sesuai levelmu. Jadi, belajar nggak lagi terasa “sama rata” buat semua mahasiswa.

Hemat Waktu, Hemat Energi
Bagi dosen, AI bagaikan “asisten super”. Bayangin kalau ratusan lembar ujian pilihan ganda bisa diperiksa otomatis, atau laporan mahasiswa bisa dicek plagiarismenya dalam hitungan menit. Dosen jadi punya lebih banyak waktu untuk hal-hal yang lebih penting: diskusi, riset, atau sekadar ngobrol inspiratif di kelas.

Mahasiswa Lebih Mandiri
Buat mahasiswa, AI itu seperti punya tutor pribadi 24 jam. Mau tanya soal rumus, teori, atau sekadar minta penjelasan ulang, chatbot berbasis AI siap menjawab kapan saja. Kamu juga bisa lihat progress belajar sendiri: sudah sampai mana pemahamanmu, dan apa yang perlu ditingkatkan. Hasilnya? Kamu jadi lebih aktif dan percaya diri.

Tantangan yang Nggak Boleh Dilupakan
Tentu saja, semua yang canggih pasti ada tantangannya. Tidak semua kampus punya infrastruktur memadai untuk menjalankan sistem AI. Selain itu, ada risiko ketergantungan—jangan sampai semua dikerjakan AI, mahasiswa tinggal duduk manis. Belum lagi isu etika, seperti plagiarisme dan keamanan data pribadi.

Jadi, Efektif Nggak?
Jawabannya: iya, tapi dengan catatan. AI memang membuat perkuliahan lebih efisien, interaktif, dan personal. Tapi tetap saja, AI hanyalah alat bantu. Peran dosen sebagai sosok yang memberi inspirasi, nilai, dan bimbingan tidak tergantikan. AI sebaiknya dipandang sebagai “asisten cerdas” yang memperkaya pengalaman kuliah, bukan sebagai pengganti manusia.

Sabtu, 27 September 2025

Kontribusi Riset Perguruan Tinggi pada Masyarakat

Abstrak

Penelitian merupakan salah satu pilar utama dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi yang memiliki kontribusi signifikan terhadap pembangunan bangsa. Artikel ini membahas peran strategis riset perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, baik dalam aspek inovasi, pemberdayaan, kebijakan publik, transformasi ekonomi, maupun transfer pengetahuan. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, artikel ini menegaskan bahwa riset perguruan tinggi bukan hanya bertujuan menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga berimplikasi langsung pada peningkatan kesejahteraan sosial dan pembangunan berkelanjutan.

Kata kunci: Riset, Perguruan Tinggi, Inovasi, Pemberdayaan Masyarakat, Kebijakan Publik

Pendahuluan

Perguruan tinggi memiliki mandat besar melalui pelaksanaan Tri Dharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Di antara ketiga dharma tersebut, penelitian berfungsi sebagai wahana untuk menemukan, mengembangkan, dan menerapkan ilmu pengetahuan yang dapat memberikan solusi bagi permasalahan nyata di masyarakat (Suryana, 2019). Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, riset merupakan instrumen penting dalam pembangunan bangsa, yang hasilnya dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran sekaligus menjadi dasar pengabdian kepada masyarakat.

Riset perguruan tinggi tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif. Hal ini sesuai dengan paradigma research-based community service yang menekankan keterkaitan antara hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat (Hendayana, 2020). Oleh karena itu, riset diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dengan praktik nyata dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Pembahasan

1. Riset sebagai Sumber Inovasi

Hasil penelitian perguruan tinggi menjadi landasan dalam melahirkan inovasi di berbagai bidang. Inovasi teknologi, kesehatan, pertanian, maupun pendidikan terbukti mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat (Nasution, 2021). Sebagai contoh, penelitian di bidang pertanian telah menghasilkan varietas unggul padi tahan hama dan efisien dalam penggunaan pupuk, yang berimplikasi pada peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan.

2. Riset dalam Pemberdayaan Masyarakat

Penelitian berbasis community development memberikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat aktif dalam proses riset. Model penelitian partisipatif ini tidak hanya menghasilkan data akademik, tetapi juga meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi lokal (Setiawan, 2020). Misalnya, riset pengolahan limbah organik menjadi kompos dan biogas telah membantu masyarakat desa mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan.

3. Riset sebagai Dasar Kebijakan Publik

Kebijakan publik yang efektif membutuhkan landasan ilmiah. Perguruan tinggi, melalui penelitian, berkontribusi menyediakan data empiris dan analisis berbasis bukti (evidence-based policy) yang dapat membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan (Sulastri, 2018). Contoh konkret adalah riset epidemiologi yang mendukung kebijakan kesehatan masyarakat, terutama pada masa pandemi COVID-19.

4. Riset dan Transformasi Ekonomi

Riset juga memainkan peran penting dalam mendorong transformasi ekonomi. Kolaborasi antara perguruan tinggi dengan dunia industri menghasilkan inovasi produk dan jasa yang memiliki nilai ekonomi tinggi (Hidayat, 2021). Hal ini sesuai dengan visi triple helix collaboration yang menekankan sinergi antara akademisi, pemerintah, dan sektor industri dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan.

5. Riset sebagai Media Transfer Pengetahuan

Publikasi ilmiah, seminar, konferensi, maupun forum masyarakat menjadi sarana transfer pengetahuan dari perguruan tinggi ke masyarakat. Melalui diseminasi hasil penelitian, masyarakat memperoleh pemahaman baru yang dapat diadaptasi dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, perguruan tinggi berperan sebagai agen pencerahan (agent of enlightenment) dalam pembangunan bangsa (Hendayana, 2020).

Kesimpulan

Kontribusi riset perguruan tinggi terhadap masyarakat bersifat multidimensional, meliputi inovasi, pemberdayaan, kebijakan publik, transformasi ekonomi, dan transfer pengetahuan. Penelitian tidak boleh dipandang sekadar sebagai kewajiban akademis, melainkan sebagai instrumen strategis dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan masyarakat harus diperkuat agar hasil riset benar-benar dapat dirasakan manfaatnya secara luas.

Daftar Pustaka

Hendayana, S. (2020). Penguatan Peran Riset dalam Pengabdian kepada Masyarakat. Jakarta: LIPI Press.

Hidayat, R. (2021). “Kolaborasi Triple Helix dalam Penguatan Inovasi Perguruan Tinggi.” Jurnal Inovasi dan Teknologi, 8(2), 55–67.

Nasution, F. (2021). Inovasi Teknologi dan Dampaknya terhadap Pembangunan Masyarakat. Medan: USU Press.

Setiawan, A. (2020). “Pendekatan Partisipatif dalam Penelitian Pengabdian Masyarakat.” Jurnal Pemberdayaan Sosial, 5(1), 33–47.

Sulastri, D. (2018). “Riset Akademik sebagai Basis Kebijakan Publik.” Jurnal Administrasi Negara, 12(1), 77–89.

Suryana, A. (2019). Pendidikan Tinggi dan Peranannya dalam Pembangunan Bangsa. Bandung: Alfabeta.

Selasa, 23 September 2025

Tukeran Gaji Penjabat dan Guru Tiap 4 Bulan: Sebuah Gagasan untuk Menguji Rasa Keadilan

Gaji sering menjadi cermin penghargaan negara terhadap profesi tertentu. Di Indonesia, realitas yang sering kita saksikan adalah adanya jurang yang lebar antara gaji seorang pejabat dengan gaji seorang guru. Padahal, jika ditelisik dari sisi kontribusi, guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa yang mencetak generasi, sedangkan pejabat adalah pelayan publik yang diberi mandat untuk mengelola jalannya pemerintahan. Namun, nyatanya penghargaan finansial kepada guru seringkali jauh dari layak, sementara pejabat mendapat fasilitas melimpah.

Maka, gagasan menarik: bagaimana jika gaji pejabat dan guru ditukar setiap empat bulan sekali? Gagasan ini memang terdengar satir, tetapi justru bisa menjadi bahan refleksi yang serius.

Argumen Mendukung Gagasan

1. Menguji Empati Pejabat

Dengan merasakan langsung hidup dengan gaji guru, pejabat akan benar-benar memahami bagaimana beratnya seorang pendidik mengatur keuangan. Dari cicilan rumah, biaya pendidikan anak, hingga kebutuhan sehari-hari yang sering kali jauh dari cukup. Empati tidak bisa lahir hanya dari pidato, tetapi dari pengalaman nyata.

2. Menghargai Peran Guru

Jika pejabat merasakan bahwa gaji guru tidak layak untuk menutup kebutuhan dasar, mereka akan terdorong untuk memperjuangkan kebijakan peningkatan kesejahteraan guru. Tukar gaji ini bukan hanya simbol, tetapi juga strategi menyadarkan bahwa pendidikan membutuhkan dukungan serius, bukan sekadar retorika.

3. Menekan Kesenjangan Sosial

Jurang antara gaji pejabat dan guru adalah gambaran kesenjangan sosial di masyarakat. Dengan sistem tukar, kesenjangan itu setidaknya diuji dan dipertanyakan kembali. Rakyat akan melihat bahwa pejabat juga “turun” merasakan realitas rakyat kecil, bukan hanya hidup dalam kenyamanan fasilitas negara.

Argumen Menolak Gagasan

1. Aspek Praktis dan Hukum

Secara administratif, gaji diatur oleh undang-undang dan peraturan pemerintah. Tukar-menukar gaji lintas profesi akan sulit diterapkan tanpa melanggar aturan hukum yang berlaku.

2. Efisiensi dan Profesionalitas

Gaji tinggi bagi pejabat sering dijustifikasi sebagai insentif agar mereka tidak tergoda korupsi. Jika gaji mereka dipangkas terlalu drastis, dikhawatirkan akan mengganggu integritas dan profesionalitas kerja. Meskipun argumen ini bisa diperdebatkan, tetapi tetap menjadi pertimbangan.

3. Potensi Populisme

Gagasan ini bisa saja hanya menjadi wacana populis tanpa solusi nyata. Yang dibutuhkan bukanlah sekadar menukar gaji, tetapi memperjuangkan kenaikan gaji guru secara berkelanjutan dengan basis kebijakan yang jelas.

Kesimpulan

Tukar gaji pejabat dan guru tiap empat bulan mungkin sulit direalisasikan secara teknis, namun gagasan ini mengandung nilai moral yang kuat: keadilan sosial. Ia mengajak kita berpikir ulang tentang bagaimana negara menghargai profesi guru yang sesungguhnya menjadi pondasi peradaban. Jika tukar gaji dianggap utopis, setidaknya ia bisa menjadi tamparan moral agar pemerintah lebih serius memperjuangkan kesejahteraan guru.

Karena sejatinya, bangsa ini tidak akan maju jika guru hanya dihargai dengan pujian, sementara pejabat terus bergelimang fasilitas.

Senin, 22 September 2025

Alam Takambang Jadi Guru: Filosofi Hidup Orang Minangkabau

Fahkrullah I Tama Umar, S.PdI., M.Pd

(Dosen & Praktisi Pendidikan)

Pendahuluan

Masyarakat Minangkabau dikenal memiliki filosofi hidup yang sarat makna dan kearifan lokal. Salah satu pepatah yang paling populer dan menjadi dasar pandangan hidup adalah “Alam Takambang Jadi Guru”. Pepatah ini secara harfiah berarti “alam yang terbentang luas menjadi guru.” Ia bukan hanya ungkapan, tetapi pandangan hidup yang mengajarkan bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta dapat menjadi sumber ilmu, pedoman, dan inspirasi bagi manusia.

Makna Filosofis

Pepatah ini mengandung makna mendalam bahwa manusia harus belajar dari segala fenomena yang ada di sekitarnya. Alam tidak hanya dipandang sebagai tempat hidup, tetapi juga sebagai sumber pelajaran:

  • Gunung yang kokoh mengajarkan keteguhan pendirian.
  • Air yang mengalir melambangkan keluwesan dan kemampuan beradaptasi.
  • Pohon yang berbuah memberi pelajaran tentang manfaat dan keberkahan jika kita memberi kepada sesama.
  • Hewan yang hidup berkelompok mengingatkan arti kebersamaan dan saling tolong-menolong.

Dengan demikian, Alam Takambang Jadi Guru bukanlah sekadar peribahasa, melainkan prinsip hidup untuk terus belajar, menyesuaikan diri, serta mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Relevansi dalam Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan sehari-hari, pepatah ini memandu orang Minangkabau untuk:

  1. Menjunjung tinggi pendidikan – belajar tidak hanya di sekolah, tetapi juga dari pengalaman dan lingkungan.
  2. Menghormati alam – menjaga kelestarian lingkungan karena alam adalah guru yang harus dihormati, bukan dieksploitasi.
  3. Mengutamakan musyawarah – sebagaimana alam menunjukkan keseimbangan, masyarakat Minang menekankan mufakat dalam menyelesaikan persoalan.
  4. Beradaptasi di perantauan – orang Minang yang merantau belajar dari kondisi tempat baru, sehingga dapat bertahan dan bahkan sukses di tanah orang.

Nilai-Nilai Pendidikan

Pepatah ini juga memiliki makna pendidikan universal. Anak-anak diajarkan sejak dini untuk:

  • Belajar dari kesalahan, sebagaimana hujan mengajarkan kesabaran, dan pelangi memberi harapan.
  • Menghargai proses, karena sebagaimana biji menjadi pohon, manusia pun perlu waktu dan perjuangan untuk mencapai keberhasilan.
  • Menjaga keseimbangan hidup, seperti siang dan malam yang silih berganti.

Penutup

Pepatah “Alam Takambang Jadi Guru” adalah mutiara kebijaksanaan Minangkabau yang menegaskan bahwa belajar tidak terbatas pada ruang kelas, tetapi berlangsung sepanjang hayat dengan menjadikan alam dan kehidupan sebagai sumber ilmu. Filosofi ini tetap relevan hingga kini, mengingatkan kita untuk senantiasa rendah hati, bijak, dan arif dalam menjalani kehidupan.

Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)

Berikut uraian lengkap dan rinci tentang model pembelajaran Think Pair Share (TPS) , mulai dari pengertian, landasan teori, langkah-langkah,...